“My Life My Adventure” — Call it like that!!

2015…on Januari in two thousand and fiveteen…

Setelah dua bulan di awal tahun yang direpotkan oleh dokumen dan data, akhirnya dapet kesempatan juga nulis another exciting and fascinating experience di akhir tahun 2014 kemarin. Kali ini izinkan aQ dengan rasa bangga menceritakan keindahan kota kelahiranku –BANYUWANGI

Yepp…akhir tahun 2014 sudah diisi dengan banyak rencana jauh-jauh hari sebelumya, and our destination is the most east city on Java Island, Banyuwangi. Ada satu hal yang bikin aQ heran mengenai kota tempat pertama kali aQ melihat dunia ini, kota ini spesial dan punya daya tarik tersendiri buat aQ (di luar alasan karena aQ lahir di tempat ini). Nggak ada kata bosan atau capek dateng ke kota ini, padahal jaraknya dari Bandung jauh bingit dan udara disana puaaannaase polll (tolong dikesampingkan alasan-alasan mistis yaa 😛 ), selain itu kalo mau ke Banyuwangi itu perlu waktu libur yang panjang (dan bonus yang banyak tentunya 😀 ). Mungkin inilah alasan yang paling tepat kenapa aQ jarang-jarang pulang ke kota tercintaahhh.

Cukup untuk pendahuluannya, kita melaju ke cerita utama, mariiiii…..

Perkenalkan inilah aktris-aktris utama dalam adventure episode ini, JREENG JREEEENG!!

Perjalanan kami dimulai tanggal 26 Desember 2014 jam 15.30, naik Mutiara Selatan dari Stasiun Bandung dan masih harus transit di Stasiun Surabaya Gubeng besok paginya yang kemudian lanjut naik Mutiara Timur sampai Stasiun Karangasem Banyuwangi. Nggak lama kami udah dijemput sama guide kita Mas Apik seperangkat dengan jeepnya yang oke hahahhaa…

Sampai St. Karangasem

Sampai St. Karangasem

In a short time we’ve finally arrived, the station is just about 10 minute from home. Our next schedule is SLEEP, because about midnight we’ve had to leave again for the Ijen climb(let’s ignore my aunt’s complaining about set off in middle of the night). Di tengah malam yang horror i mean sepi, senyap dan gelap kami berempat menyusuri jalan (dan ternyata hutan semak belukar juga) menuju Paltuding yaitu area batas kendaraan bermotor dan titik awal pendakian. Pukul 01.30 WIB…bismillah kita mulai pendakian Gunung Ijen.

Jadi yang bisa aQ ceritakan disini, pendakian terbilang BERAT untuk pemula (kaya kami-kami ini, terutama aQ & Dian). Medan jalan menanjak curam, tekstur jalan berpasir, kondisi minim penerangan, lingkungan banyak orang kaya di Gasibu hari minggu. Dari pada jalur datar lebih banyak jalur tanjakan berbelok.

Kita bahas sedikit soal Dian yang katanya hampir menyerah di 1 KM awal pendakian, (jiga nu he-euh) kita mulai pendakian dengan PeDe optimisnya. Kalau bisa update status Facebook di setiap 100m, mungkin ini yang aQ tulis : 100m pertama terlalui “OKE” … 200m pertama selesai “MASIH OKE” … 300m tanjakan selanjutnya “AYO SEMANGAT TERUS” … 400m berikutnya “MASIH NANJAK LAGI AJA?!” … 500m kemudian “NAFAS MULAI TERSENGAL-SENGAL” … 600m kedepan “DENYUT NADI TERASA SAMPAI DI LEHER” … 700m “UDAH NGGAK SANGGUP UPDATE STATUS LAGI”

Yang terjadi adalah badan kami (aQ & Dian) dalam kondisi SHOCK (everyday i’m shock,,shock!!). Muka udah pucet, nafas udah setengah-setengah, kaki udah nggak kuat diajak nanjak lagi. Terpikir ruginya kalau udah jauh-jauh kesini malah turun lagi dan nggak sampe kawah, maka dengan secercah harapan dan dengan puing-puing sisa semangat akhirnya kami putuskan melanjutkan pendakian. Thanks a lot to uri Ita-ssi yang sabar nungguin kami nyetel nafas dan isi ulang tenaga setiap 10 langkah nanjak, you’re really helped a lot Sist.

Singkat cerita, sampai puncak Kawah Ijen kami disambut dengan dingin oleh sekompi kabut yang lalu lalang. Sungguh sangat sayang sekali bangeeettt…kita nggak kebagian melihat eksotisnya The Blue Fire (sampe puncak juga udah untung) karena kita sampai puncak jam 04.30, sedangkan katanya si api biru bisa dinikmati pukul 03.00. Kita tetap bersyukur dan dengan sabarnya menunggu pemandangan indah di balik sang kabut. Hasil maksimal yang bisa kita dapat terlihat seperti foto-foto di bawah ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sedikit saja cerita saat turun gunung setelah semedi di puncak kawah yang mana kabutnya betah nggak ilang-ilang walaupun sudah dimantra-mantrai (baca : di depan kawah nyanyi-nyanyi nggak jelas), waktu tempuh turun gunung cuma 1 jam 30 menit dong, berbanding terbalik dengan waktu pendakian tadi. Jalur turun memang lebih ringan dari pada nanjak, tapi usaha pilah-pilih jalan biar nggak kepeleset pasirnya itu bukan main saudara-saudara… Menahan pantat memang tak semudah yang dikira hahahahaaa :D. Sampai kembali di Pos Paltuding pukul 09.00 dan selanjutnya kembali ke rumah.

Masih di hari yang sama agenda sore adalah Taman Nasional Baluran, mari kita simak cerita selanjutnya….

Setelah mandi, makan, dan sholat di rumah, jam 1 siang kami kembali dijemput oleh Mas Guide dan seperangkat jeepnya meluncur ke TN Baluran yang mana adalah cita-cita Dian semenjak lama main kesana. Jaraknya dari Kota Banyuwangi sekitar 50KM dan ditempuh sekitar 1 jam. The Baluran National Park also known as Africa Van Java because the animals living in their natural habitat such as in Africa and the landscape is also not far different from what we’ve seen on National Geographics. Ternyata dari gerbang depan hingga sampai ke pusat Taman Nasional yaitu Savana Bekol melewati hutan sepanjang 12 KM. Ini dia dokumentasinya….

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Diujung savana terdapat Pantai Bama yang berombak kecil dan Hutan Bakau yang asri.

Hari ini ditutup dengan savana dan esok kita lanjutkan jelajah pantaaaaaiiiii 😀 😀 😀

Penelusuran pantai ini akan menjadi a long story to tell, i hope i won’t miss the important parts. Pantai Sukamade >> Teluk Hijau >> Pantai Pulau Merah. Perjalanan kita mulai dari jam 9.00 di hari ke-2 aQ di Banyuwangi, untuk mencapai tujuan pertama Pantai Sukamade kita harus menempuh sekitar 90KM ke selatan dari kota. Kalau jalan yang dilewati seperti jalan aspal akan cepat dan nggak menyiksa, tapi dari 90KM itu 30% jalan aspal dan 70% jalan bukit berbatu. Akses ke Pantai Sukamade melewati Taman Nasional Meru Betiri yang dimana taman nasional hutan ini jaaaauuuuuhhhhh berbeda dengan TN Baluran. Kalau bisa digambarkan dengan kata-kata, selama perjalanan kami serasa joget dangdut campur disko 😛 . Cekidot the track!!

Itu baru track-nya, mau tau medan jalan yang kami lalui?? Hutan+pantai+bukit+sungai = KOMPLIT. Dan selain jeep kami beruntung mencoba moda transportasi lainnya yaitu getek dan mobil truck. Ceritanya adalah kami seharusnya melewati aliran sungai, kalau dalam kondisi cuaca bagus sungai itu bisa dilewati langsung oleh jeep. Berhubung lagi musim hujan ditambah lagi ada tanggul yang jebol diujung sungai, hasilnya adalah perpaduan air pasang dan arus deras, jeep dianjurkan sebaiknya nggak nyebrang langsung kecuali mau tanggung resiko sendiri. Kami dan beberapa rombongan wisatawan dari jeep lain sepakat patungan nyebrang sungai naik getek dan melanjutkan sisa perjalanan sekitar 3-4 KM dengan truck, yaaa macem truck sapi lah. Silahkan menikmati iklan layanan masyarakat berikut ini….

Dikarenakan akses jalan yang sulit, jauh, dan beragam akhirnya kami sampai di Guest House Sukamade jam 16.30 waktu setempat. By the way the beach isn’t visible at all as far as the eye could see, where is the beach?? So we have to walk down the little jungle (again) about 700m to see the beach, oh my….what a long journey. Ternyata ini yang terbentang di balik little jungle tadi sodara-sodara.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sebelum sempat ngeliat matahari menghilang kami putuskan balik ke Guest House, mengingat semakin larut kita kembali maka akan semakin mencekam the little jungle yang harus kita lewati. Jadwal berikutnya mengintip mengamati penyu bertelur, di tempat ini ada orang-orang yang disebut ranger yang tugasnya menyelamatkan telur penyu yang baru dikeluarkan sang induk (dari ancaman babi hutan atau pihak-pihak yang bermaksud komersil) untuk di-erami di suatu tempat yang disebut akuarium. Intinya ranger disini bekerja untuk melestarikan hidup spesies penyu. Malam itu kami dan rombongan lain sekitar 15 orang berangkat jam 20.00 waktu setempat dan menyusuri (lagi) the little jungle hanya dengan penerangan senter. Keberuntungan memang sedang bersama kami, alhamdulillah….malam itu terhitung ada 3 penyu yang naik ke pantai untuk bertelur dan kami menyaksikan secara langsung salah satunya. Maksud hati ingin menyaksikan sampai mereka kembali ke laut, tapi apadaya kami yang sisa 3 orang ini harus dikembalikan segera oleh ranger ke pos utama (peserta yang lain langsung pulang saat penyu selesai mengelurkan telurnya) karena disinyalir ada penyusup yang mengintai telur-telur penyu. Izinkan si penyu eksis sejenak di tulisan ini.

Kami kembali ke kamar sekitar jam 23.00 dan segera recharge energi untuk perjalanan berikutnya. Paginya kami punya jadwal melepas tukik ke laut, setiap rombongan diberi se-ember tukik siap lepas yang ternyata setelah dilihat isinya cuma 4 ekor hahahahhaaaa. Tak bosan kami lewati lagi hutan setapak yang kemarin sampai ke bibir pantai, prosesi lepas tukik sukses dihiasi langit biru, angin pantai, debur ombak, dan wajah-wajah sembab bangun tidur :D. Dikarenakan padatnya agenda, segeralah kami siap-siap menuju pantai berikutnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Teluk Hijau atau Teluk Ijo ini yang mencuri perhatian dari waktu perjalanan ini kami rencanakan. Buat aQ pemandangan paling bagus ada di lokasi ini. Setelah melalui rute yang kemarin, kami sampai di Pantai Rajegwesi sekitar jam 10.00 dan langsung menyewa perahu nelayan mengarungi lautan menuju teluk. Wow…berlayar selama 15 menit disuguhi air laut berombak sedang yang berwarna turqouise, pemandangan yang indah tetap tidak mengurangi rasa deg-deg-ser di hati karena kapal nelayannya kecil banget dan tanpa dinding disampingnya, HIKS!! Ini ekspresi bebas ku…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

The last place in our schedule is Pulau Merah. Not much to tell at this spot, we’ve just enjoyed and relaxed spent the noon here. Pantainya lebih ramai dibanding Teluk Hijau dan disini sering diadakan event-event surfing, baik yang taraf lokal maupun internasional. Waktu itu ombaknya nggak terlalu besar, kami menikmati pemandangan pantai yang penuh dengan jejeran payung merah, pasir yang putih, dan seonggok bukit yang posisinya agak jauh dari bibir pantai. Aduh…lupa nama bukitnya, ya pokoknya trademark-nya Pulau Merah 😀

Liburan di luar rumah berakhir sampai sini. Sisa hari kosong kami isi dengan santai di rumah hingga tahun baru tiba. Untuk soal liburan tak ada kata lelah, bahkan belum sampe balik ke Bandung lagi kita udah ngerencanain ngabisin uang lagi tahun depan, ckckckckck…..

Well…i still think it’s wasn’t enough time to explore many more exotic places at Banyuwangi. I’ll come again and can’t wait to share the experiences here. So see you on next holiday vacation and happy new year 😉

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s